ANALISIS STRUKTUR TEKS DRAMA LYNN ALTENBERND DAN LEISLIE L. LEWIS : BILA MALAM BERTAMBAH MALAM KARYA PUTU WIJAYA

ANALISIS STRUKTUR TEKS DRAMA LYNN ALTENBERND DAN LEISLIE L. LEWIS :
BILA MALAM BERTAMBAH MALAM KARYA PUTU WIJAYA

OLEH :
Yogi Cahyadhi
10/299437/SA/15366
Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
2010/2011

ANALISIS STRUKTUR TEKS DRAMA LYNN ALTENBERND DAN LEISLIE L. LEWIS :
BILA MALAM BERTAMBAH MALAM KARYA PUTU WIJAYA

Yogi Cahyadhi
10/299437/SA/15366
Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

1. Pengantar
1.1 Latar Belakang Penulis
Putu yang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944, bukan dari keluarga seniman. Ia bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.
Semasa di SD, ”Saya doyan sekali membaca,” tuturnya, ”Mulai dari karangan Karl May, buku sastra Komedi Manusia-nya William Saroyan, sampai cerita picisan yang merangsang berahi. Sejak kecil, saya juga senang sekali seni pertunjukan. Mungkin sudah merupakan bakat, senang pada seni laku,” ujarnya mengenang.
Meskipun demikian, ia tak pernah diikutkan main drama semasih kanak-kanak, juga ketika SMP. Baru setelah menang lomba deklamasi, ia diikutkan main drama perpisahan SMA, yang diarahkan oleh Kirdjomuljo, penyair dan sutradara ternama di Yogyakarta. Ia pertama kali berperan dalam Badak, karya Anton Chekov. “Sejak itu saya senang sekali pada drama,” kenang Putu Setelah selesai sekolah menengah atas, ia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, kota seni dan budaya. Di Yogyakarta, selain kuliah di Fakultas Hukum, UGM, ia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi), dan meningkatkan kegiatannya bersastra. Dari Fakultas Hukum, UGM, ia meraih gelar sarjana hukum (1969), dari Asdrafi ia gagal dalam penulisan skripsi, dan dari kegiatan berkesenian ia mendapatkan identitasnya sebagai seniman.
Selama bermukim di Yogyakarta, kegiatan sastranya lebih terfokus pada teater. Ia pernah tampil bersama Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra dalam beberapa pementasan, antara lain dalam pementasan Bip-Bop (1968) dan Menunggu Godot (1969). Ia juga pernah tampil bersama kelompok Sanggar Bambu. Selain itu, ia juga (telah berani) tampil dalam karyanya sendiri yang berjudul Lautan Bernyanyi (1969). Ia adalah penulis naskah sekaligus sutradara pementasan itu. Naskah dramanya itu menjadi pemenang ketiga Sayembara Penulisan Lakon yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Teater Nasional Indonesia. Setelah kira-kira tujuh tahun tinggal di Yogyakarta, Putu pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia bergabung dengan Teater Kecil asuhan sutradara ternama Arifin C. Noer dan Teater Populer. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres (1969). Setelah majalah itu mati, ia menjadi redaktur majalah Tempo (1971-1979). Bersama rekan-rekannya di majalah Tempo, Putu mendirikan Teater Mandiri (1974). “Saya perlu bekerja jadi wartawan untuk menghidupi keluarga saya. Juga karena saya tidak mau kepengarangan saya terganggu oleh kebutuhan mencari makan,” tutur Putu.
Pada saat masih bekerja di majalah Tempo, ia mendapat beasiswa belajar drama (Kabuki) di Jepang (1973) selama satu tahun. Namun, karena tidak kerasan dengan lingkungannya, ia belajar hanya sepuluh bulan. Setelah itu, ia kembali aktif di majalah Tempo. Pada tahun 1974, ia mengikuti International Writing Program di Iowa, Amerika Serikat. Sebelum pulang ke Indonesia, mampir di Prancis, ikut main di Festival Nancy.
Putu mengaku belajar banyak dari Tempo dan Goenawan Mohamad. “Yang melekat di kepala saya adalah bagaimana menulis sesuatu yang sulit menjadi mudah. Menulis dengan gaya orang bodoh, sehingga yang mengerti bukan hanya menteri, tapi juga tukang becak. Itulah gaya Tempo,” ungkap Putu. Ia juga membiasakan diri dengan tenggat – suatu siksaan bagi kebanyakan pengarang. Dari Tempo, Putu pindah ke majalah Zaman (1979-1985), dan ia tetap produktif menulis cerita pendek, novel, lakon, dan mementaskannya lewat Teater Mandiri, yang dipimpinnya. Di samping itu, ia mengajar pula di Akademi Teater, Institut Kesenian Jakarta (IKJ).Ia mempunyai pengalaman bermain drama di luar negeri, antara lain dalam Festival Teater Sedunia di Nancy, Prancis (1974) dan dalam Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Ia juga membawa Teater Mandiri berkeliling Amerika dalam pementasan drama Yel dan berpentas di Jepang (2001).
Karena kegiatan sastranya lebih menonjol pada bidang teater, Putu Wijaya pun lebih dikenal sebagai dramawan. Sebenarnya, selain berteater ia juga menulis cerpen dan novel dalam jumlah yang cukup banyak, di samping menulis esai tentang sastra. Sejumlah karyanya, baik drama, cerpen, maupun novel telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand.
Gaya Putu menulis novel tidak berbeda jauh dengan gayanya menulis drama. Seperti dalam karya dramanya, dalam novelnya pun ia cenderung mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya – penuh potongan-potongan kejadian yang padat, intens dalam pelukisan, ekspresif bahasanya. Ia lebih mementingkan perenungan ketimbang riwayat. Adapun konsep teaternya adalah teror mental. Baginya, teror adalah pembelotan, pengkhianatan, kriminalitas, tindakan subversif terhadap logika – tapi nyata. Teror tidak harus keras, kuat, dahsyat, menyeramkan; bahkan bisa berbisik, mungkin juga sama sekali tidak berwarna.Ia menegaskan, ”teater bukan sekadar bagian dari kesusastraan, melainkan suatu tontonan.” Naskah sandiwaranya tidak dilengkapi petunjuk bagaimana harus dipentaskan. Agaknya, memberi kebebasan bagi sutradara lain menafsirkan. Bila menyinggung problem sosial, karyanya tanpa protes, tidak mengejek, juga tanpa memihak. Tiap adegan berjalan tangkas, kadang meletup, diseling humor.Mungkin ini cerminan pribadinya. Individualitasnya kuat, dan berdisiplin tinggi. Saat ditanya pemikiran pengarang yang sehari bisa mengarang cerita 30 halaman, menulis empat artikel dalam satu hari ini tentang tulis menulis, Putu menjawab, ”Menulis adalah menggorok leher tanpa menyakiti,” katanya, ”bahkan kalau bisa tanpa diketahui.” Kesenian diibaratkannya seperti baskom, penampung darah siapa saja atau apa pun yang digorok: situasi, problematik, lingkungan, misteri, dan berbagai makna yang berserak. ”Kesenian,” katanya, ”merupakan salah satu alat untuk mencurahkan makna, agar bisa ditumpahkan kepada manusia lain secara tuntas.”
“Saya sangat percaya pada insting,” kata Putu tentang caranya menulis. “Ketika menulis, saya tidak mempunyai bahan apa-apa. Semua datang begitu saja ketika di depan komputer,” katanya lagi. Ia percaya bahwa ada satu galaksi dalam otak yang tidak kita mengerti cara kerjanya. Tapi, menurut Putu, itu bukan peristiwa mistik, apalagi tindak kesurupan. Selain menekuni dunia teater dan menulis, Putu juga menjadi sutradara film dan sinetron serta menulis skenario sinetron. Film yang disutradarainya ialah film Cas Cis Cus, Zig Zag, dan Plong. Sinetron yang disutradarainya ialah Dukun Palsu, PAS, None, Warteg, dan Jari-Jari. Skenario yang ditulisnya ialah Perawan Desa, Kembang Kertas, serta Ramadhan dan Ramona. Ketiga skenario itu memenangkan Piala Citra.
Pada 1977, ia menikah dengan Renny Retno Yooscarini alias Renny Djajusman yang dikaruniai seorang anak, Yuka Mandiri. ”Sebelum menikah saya menulis Sah, ee, saya mengalami persis seperti yang saya tulis,” ujarnya. ”Pernikahan saya bubar pada 1984.” Tetapi ia tidak lama menduda. Pertengahan 1985, ia menikahi gadis Sunda, Dewi Pramunawati, karyawati majalah Medika. Bersama Dewi, Putu Wijaya selanjutnya hidup di Amerika Serikat selama setahun.
Atas undangan Fulbright, 1985-1988, ia menjadi dosen tamu teater dan sastra Indonesia modern di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS. Atas undangan Japan Foundation, Putu menulis novel di Kyoto, Jepang, 1992. Setelah lama berikhtiar – walau dokter di Amerika mendiagnosis Putu tak bakal punya anak lagi – pada 1996, pasangan ini dikaruniai seorang anak, Taksu.Rumah tangga baginya sebuah “perusahaan”. Apa pun diputuskan berdasarkan pertimbangan istri dan anak, termasuk soal pekerjaan. Soal pendidikan anak, “Saya tidak punya cara,” ujar Putu. Anak dianggap sebagai teman, kadang diajak berunding, kadang dimarahi. Dan, kata Putu, “Saya tidak mengharapkan ia menjadi apa, saya hanya memberikan kesempatan saja.”
Kini, penggemar musik dangdut, rock, klasik karya Bach atau Vivaldi dan jazz ini total hanya menulis, menyutradarai film dan sinetron, serta berteater. Dalam bekerja ia selalu diiringi musik. Olahraganya senam tenaga prana Satria Nusantara. “Sekarang saya sudah sampai pada tahap bahwa kesenian merupakan upaya dan tempat berekspresi sekaligus pekerjaan,” ujar Putu.
1.2 Landasan Teori
Dalam meneliti teks drama seorang peneliti membutuhkan teori dasar dan metode yang digunakan. Selain kernodle, ada teori yang menawarkan teori struktur drama dan bisa diterapkan oleh para peneliti. Altenbernd dan Lewis mengemukakan elemen dalam drama dibagi dalam unsur konvensi drama, cerita drama, karakter, dan plot. Pendukung elemen drama yang lainnya adalah dialog, action, dan makna drama. Teori ini mengemukakan bahwa yang paling penting diteliti dalam struktur drama adalah unsur karakter dan plot. Selain itu, seorang peneliti juga bisa menganalisis elemen-elemen tambahannya, seperti dialog, action, dan makna drama (Altenbernd dan Lewis via Cahyaningrum Dewojati,2010:184).
Adapun dari sisi teks drama Altenbernd menjelaskan bahwa kadang-kadang sebuah cerita menawarkan sesuatu yang sangat jelas, kuat, dan cukup progresif pada penontonnya. Cerita pada drama bisa didasarkan pada ide asli pengarangnya namun bisa pula meminjam ide sejarah, legenda, cerpen, novel, atau adaptasi teks-teks lama yang sangat terkenal (Altenbernd via Cahyaningrum Dewojati,2010:185).
Menurut Altenbernd Struktur Karakter atau action merupakan hal yang paling mendasar dalam sebuah drama. Struktur karakter adalah elemen-elemen yang lain melalui perbuatan tokoh diatas panggung. Sebuah drama yang baik bukanlah tercipta melalui kesan yang didapat melaui alur, tetapi melalui keberhasilan para aktor dalam memainkan perannya. Emosi yang ditampilkan melalui acting para tokoh diatas panggung akan membuat menarik sebuah plot drama (Altenbernd,1966:14-15 via Cahyaningrum Dewojati,2010:185).
Karakter pokok yang mendominasi plot dan menjadi pusat dalam drama disebut tokoh protagonist, sedangkanlawannya disebut tokoh antagonis. Apabila lawan protagonist bukan tokoh maka disebut kekuatan antagonis. Cara menganalisis karakter tokoh dapat dilihat dari caranya berbicara, bereaksi terhadap lingkungannya, atau bisa juga dengan ciri-ciri yang Nampak langsung seperti umur, jenis kelamin, pakaian, pekerjaan, dan ciri fisik lainnya. Karakter juga dapat dikenal melalui percakapan tokoh dengan tokoh lainnya. Penggunaan bahasa dalam drama pun mempunyai fungsi yang penting untuk menganalisis karakter tokoh. Pemakaian bahasa bukan hanya tentang apa yang dikatakan tokoh, tetapi bagaimana caranya mengungkapkan (Altenbernd,1966:16 via Cahyaningrum Dewojati,2010:186).
Konflik adalah dasar sebuah plot. Plot terbangun dengan adanya konflik-konflik yang muncul di dalam drama. Tahapan plot menurut Altenberd terdiri atas exposition, enticing or exciting force, or challenge, rising action, dan climax (Altenbernd,1966:17 via Cahyaningrum Dewojati,2010:186).
Dalam drama di Indonesia dikenal beberapa teknik pengaluran untuk mengakrabkan pentas dengan audiensnya. Pertama dengan pentas teater arena. Teknik ini tidak menggunakan batas pemisah yang jelas antara pemain dan penonton. Pemain sekaligus bisa berdialog dengan penonton. Kedua adalah teknik naming, yaitu penamaan para tokoh dan setting dengan nama-nama yang dikenal audeins. Ketiga adalah teknik bahasa, yaitu teknik dialog yang diucapkan para tokoh biasanya banyak memanfaatkan kosa kata, dialek, dan idiom-idiom lokal.
2. Analisis
2.1. Struktur Karakter
Tokoh-tokoh dalam drama yang berjudul bila malam bertambah malam mempunyai watak/karakter yang berbeda-beda. Tokoh-tokoh itu kemudian dianalisis menurut sifat/watak/karakternya serta metode teknik penampilannya, sebagai berikut :
1. Gusti Biang
Gusti biang adalah seorang Janda yang begitu membanggakan kebangsawanannya. Gusti biang merupakan peran utama dalam drama ini dimana menjadi fokus dari tokoh-tokoh yang lain. Gusti biang mempunyai watak yang pemarah, keras, angkuh dan egois. Dalam kehidupan sehari-harinya dia selalu marah-marah terhadap kedua abdi nya yang sangat setia. Namun pada suatu malam dia telah menuduh Nyoman ingin meracuninya dengan maksud membunuh dan mengambil hartanya. Rasa tidak senang Gusti Biang semakin memuncak ketika tahu bahwa Ngurah anak satu-satunya mencintai Nyoman (Seorang gadis yang 18 tahun di rawat gusti biang dan tinggal di puri) . Dia tidak setuju karena perbedaan kasta yang tidak sepadan. Sikap Gusti Biang yang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia berdasarkan kasta,membuat ia sombong dan memandang rendah orang lain. Keangkuhan dan sifat semena-mena terhadap dua abdinya juga di landasi oleh semangat kebangsawanan yang ditinggal oleh mantan suaminya. Apalagi dia selalu menganggap bahwa suaminya adalah seorang pahlawan sejati.
“Semua pahlawan mati karena tertembak Nica. Tetapi dia tidak! Dia I Gusti Ngurah Ketut Mantri, bukan seorang pahlawan. Dia mati ditembak gerilya sebagai pengkhianat!” (BMBM, 1971: 96)

Meskipun dikatakan bahwa anak janda itu tidak berhasil menyelesaikan pelajarannya, seseorang yang pernah menginjakkan kakinya di unversitas di Pulau Jawa tetap dianggap hebat, gusti Biang pun tak luput dari pandangan, terbukti dari kata-katanya :

“Sekarang ia pasti sudah sebesar ayahnya dan sekuat sapi jantan. Dan jauh di sana mempelajari buku-buku tebal yang tidak sembarang orang bisa baca.
(BMBM, 1971: 12)

2. Nyoman

Nyoman Niti adalah seorang gadis desa yang selama kurang lebih 18 tahun tinggal di puri tempat tinggal gusti biang. Selama itu kebutuhan nyoman tercukupi oleh gusti biang. Namun karena Sikap Gusti Biang yang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia berdasarkan kasta,membuat ia sombong dan memandang rendah orang lain. Begitu pula terhadap Nyoman. Nyoman Niti yang selalu setia melayani Gusti Biang,haru rela menelan pil pahit akibat sikap Gusti Biang yang menginjak-injak harga dirinya.Telah lama Nyoman Niti ingin meninggalkan puri itu karena ia sudah tidak sanggup menahan radang kemarahan terhadap Gusti Biang.Namun Nyoman selalu urung manakala Wayan yang selalu baik dan menghiburnya membujuknya untuk bersabar dan tetap setia menjaga Gusti Biang demi cintanya pada Ratu Ngurah (anaknya Gusti biang).
Nyoman Niti tak kuasa lagi menahan emosi yang bertahun-tahun ia pendam manakala Gusti Biang benar-banar menindasnya. Gusti Biang menuduh Nyoman akan meracuninya dengan obat-obatan yang Nyoman berikan. Bahkan Gusti Biang tidak segan-segan memukul Nyoman dengan tongkat gadingnya.
Akhirnya Nyoman Niti pun bergegas meninggalkan puri itu. Wayan pun tak mampu menahan kepergiannya. Tapi alangkah terkejutnya Nyoman ketika Gusti Biang membacakan biaya yang dikeluarkannya membiayai Nyoman selama kurang lebih 18 tahun. Nyomn tidak menyangka Gusti Biang setega itu akhirnya Nyoman pergi dengan berurai air mata dalam suasana malam yang sunyi.

3. Wayan

Wayan adalah salah seorang abdi gusti biang, wayang adalah seorang lelaki tua yang dulu menjadi ajudan dan teman seperjuangan almarhum suami gusti biang yang telah meninggal pada saat pertempuran melawan belanda.
Wayan memiliki watak yang baik hati, setia dan lucu.
Dalam drama bila malam bertambah malam pencerita menyisipkan pembayangan dalam lukisan Wayan yang sedang menembang.

Sayup-sayup terdengar suara lelaki tua menerbangkan (sic! — menembangkan?) tembang Semarandhana dari arah gudang. Tembang yang mengisahkan cinta yang tak sampai, yang telah menjadi luka sarat.
(BMBM, 1971: 7)

Luka sarat akibat cinta tak sampai yang ditembangkan Wayan itu akan menyinggahi hati pembaca dengan pertanyaan: adakah kisah di balik tembang itu, ataukah suatu kebetulan saja Wayan menembangkan cinta tak sampai? Dugaan pada adanya kisah di balik tembang semakin tajam dalam kalimat selanjutnya:”Dinyanyikan dengan suara serak dan sumbang, tetapi penuh pendaman perasaan.” (h.7).
Pembayangan itu disambung dengan pembayangan lain dalam jarak dekat, tetapi tidak terlalu mencurigakan. Sebab sambungan tersebut terwujud dalam bentakan Gusti Biang yang seolah menghina tampang Wayan yang tua bangka dan kepura-puralinglungan Wayan yang disambung komentar pencerita.
Wayan paham akan kelinglungannya, berbalik kembali dengan kemalu-maluan. Hanya dia yang tahu apakah polahnya itu dibuatnya karena memang sudah linglung atau kepura-puraan orang tua yang saling memanjakan.
(BMBM, 1971: 13)
Wayan merupakan tokoh yang sangat setia, karena pada dasarnya wayan adalah orang yang selalu tidur dengan gusti biang, wayan mencintai gusti biang sejak kecil sampai mereka sama-sama tua wayan masih tetap mengharapkan gusti biang

(WAYAN)
Tiyang menghamba di sini karena cinta tiyang kepadanya. Seperti cinta Ngurah kepada Nyoman. Tiyang tidak pernah kawin seumur hidup dan orang-orang selalu menganggap tiyang gila, pikun, tuli, hidup. Cuma tiyang sendiri yang tahu, semua itu tiyang lakukan dengan sengaja untuk melupakan kesedihan, kehilangan masa muda yang tak bisa dibeli lagi. (BMBM, 1971:39)

4. Ngurah
Ngurah adalah anak gusti biang yang sedang menyelesaikan pendidikannya di universitas di pulau jawa, gusti biang ibunya selalu membanga-banggakan anaknya.
“Sekarang ia pasti sudah sebesar ayahnya dan sekuat sapi jantan. Dan jauh di sana mempelajari buku-buku tebal yang tidak sembarang orang bisa baca.
(BMBM, 1971: 12)

Ngurah sangat mencintai nyoman, namun seperti yang dimaksudkan dalam lakon tersebut bahwa cinta mereka terhalang oleh kasta. Karena pada dasarnya sama dengan cinta gusti biang terhadap wayan yang terhalang oleh kasta. Sehingga cinta itu berubah menjadi kemarah-marahan kesombongan dank keegoisan Gusti Biang. Ngurah mempunyai watak yang berbeda dengan ibunya, ngurah mempunyai watak yang sangat baik terhadap semua orang, bahkan dia sangat bijaksana terlebih ketika mengetahui cerita sebenarnya tentang siapa ayah kandungnya sendiri yang ternyata adalah wayan. Dia sama-sekali tidak marah bahkan karena kejujuran itu cerita dalam lakon itu menjadi lebih baik. Pada akhirnya Gusti biang mengijinkan Ngurah menikah dengan Nyoman sedangkan Gusti biang sendir beranji menjaga kesetiaannya terhadap wayan sampa sama-sama mati kelak.
2.2. Struktur Plot
Struktur plot menurut Altenbernd terbagi menjadi lima tahap, yaitu
Exposition, Enticing, Rising action, Climax, dan Denouement.
Exposition merupakan pemaparan keadaan fisik maupun sosial, perkenalan tokoh,dan situasi awal yang terdapat dalam drama tersebut.
Lakon Bila Malam Bertambah Malam ini dikemas dalam struktur yang kokoh rapi. Teknik menampilkan rangkaian peristiwa atau pengaluran, menggunakan alur lurus, bagian-bagiannya tersusun sempurna: awal, tikaian, gawatan, puncak, leraian, dan akhir, memiliki padanan yang kokoh. Mula-mula pembaca dikenalkan dengan kebanggaan seorang janda bangsawan yang sedang menanti putranya datang dari Pulau Jawa. Bagi penduduk luar Pulau Jawa, lebih-lebih pada saat karya ini ditulis – yaitu pada tahun 1964 – Pulau Jawa mempunyai konotasi tersendiri bagi sebuah kebanggaan ilmiah, karena Pulau Jawa dianggap pusat orang menimba ilmu. Oleh karena itu, meskipun dikatakan bahwa anak janda itu tidak berhasil menyelesaikan pelajarannya, seseorang yang pernah menginjakkan kakinya di unversitas di Pulau Jawa tetap dianggap hebat. Gusti Biang pun tak luput dari pandangan tersebut, terbukti dari kata-katanya kepada Wayan:

“Sekarang ia pasti sudah sebesar ayahnya dan sekuat sapi jantan. Dan jauh di sana mempelajari buku-buku tebal yang tidak sembarang orang bisa baca. (BMBM, 1971: 12)

Di samping alur yang rapi, penokohan pun juga demikian. Dialog yang ada disusun cermat, menunjukkan watak tokoh masing-masing dan menyiratkan sifat atau watak tokoh lawan bicara. Dialog antara Gusti Biang dan Wayan, juga Gusti Biang dan Nyoman Niti, menunjukkan betapa nyinyir dan angkuhnya janda bangsawan itu, demikian pula dialognya dengan anaknya, Ngurah. Sebaliknya, dari dialog tersebut juga tercermin sifat lawan bicara Gusti Biang: Wayan yang penyabar, demikian pula Nyoman Niti, juga Ngurah yang memiliki kepribadian yang kokoh namun tetap rendah hati dan hormat kepada orang tua, walaupun orang tuanya sangat menjengkelkan. Dari dialog Ngurah dan Wayan, tercermin kasih anak muda itu kepada lelaki tua yang ada di rumah itu, dan sebaliknya. Kedua hal itu tetap tercermin walau dalam dialog yang panas.

“Kenapa Bapa bilangAyah saya pengkhianat?” tanyanya dengan panas. “Kenapa, Bapa Wayan? Membeo kata orang-orang yang iri hati? Alangkah piciknya kalau Bapa yang telah bertahun-tahun di sini sampai ikut merusak nama keluarga kami! Kenapa Bapa?”
(BMBM, 1971: 97)

“Tariklah kata-kata itu, Bapa. Demijasa-jasa Bapa yang telah bekerja di sini selama bertahun-tahun, saya akan bersedia melupakannya. Minta maaflah atas kekeliruan itu kepada Ibu.”
(BMBM, 1971: 99)

Cerita berakhir dengan kebahagiaan bagi semua: pasangan Ngurah – Nyoman, dan pasangan tersembunyi Mirah – Wayan. Tenyata motivasi pengabdian dalam keluarga itu adalah agar ia selalu dapat menjaga orang yang dikasihinya, demikian pula motivasi Nyoman. Tanpa motivasi tersebut, mereka sudah lama tidak kuat berdiam di puri tua itu.

DAFTAR PUSTAKA

Dewojati, Cahyaningrum. 2010. Drama : Sejarah, Teori, dan Penerapannya.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

http://bandarnaskah.blogspot.com/2010/04/bila-malam-bertambah-malam-putu-wijaya.html

http://goesprih.blogspot.com/2010/02/bila-malam-bertambah-malam.html

http://pojokbiografi.wordpress.com/2010/…/biografi-putu-wijaya/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s